Bisnis

Selama PSBB, 66 Persen UMKM Batasi Operasional

Kamis, 24 September 2020 - 13:25 WIB

Penulis :

Redaksi
Tags : UMKM, PSBB Covid-19
Selama PSBB, 66 Persen UMKM Batasi Operasional
Ilustrasi

Hukum & Bisnis (Jakarta) - Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi covid-19 berdampak terhadap aktivitas bisnis UMKM. Hasil survei Mandiri Institute menyebutkan, 66 persen UMKM membatasi operasional usaha.

Survei dilakukan terhadap 320 usaha UMKM di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. Dari survei tersebut ditemukan bahwa setelah PSBB, mayoritas dari UMKM atau sekitar 66 persen membatasi operasional usahanya, seperti mengurangi waktu operasi, membatasi kapasitas produksi, atau hanya menjalankan lini penjualan.

Sementara 28 persen dari UMKM telah menjalankan aktivitas bisnis secara normal, baik produksi dan penjualan. Angka tersebut masih di bawah persentase usaha yang beroperasi normal ketika PSBB, yaitu sebesar 50 persen.

Mayoritas usaha tercatat menyebutkan bahwa terbatasnya modal usaha (43 persen) dan kekhawatiran mengenai prospek usaha ke depan (24 persen) menjadi alasan utama membatasi aktivitas operasional UMKM. Sebanyak 14 persen responden yang melaporkan membatasi aktivitas usahanya juga melaporkan bahwa lemahnya permintaan konsumen menyebabkan hal tersebut.

"UMKM masih mempertimbangkan kembali untuk beroperasi secara normal akibat turunnya daya beli masyarakat dan kekhawatiran prospek ekonomi ke depan. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan 60 persen dari responden tidak memiliki ketertarikan untuk mendapatkan pinjaman baru dari sektor keuangan," ujar  VP Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani, dalam diskusi daring, Kamis (24/9/2020).

Ia menambahkan akses terhadap digital juga ditemukan membantu UMKM dalam mitigasi dampak dari COVID. Berdasarkan survei Mandiri Institute, 9 persen dari UMKM dengan akses digital melaporkan adanya kenaikan omzet usaha. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan UMKM tanpa akses digital yang hanya 4 persen. UMKM dengan akses digital juga memiliki lebih banyak strategi bertahan dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19.

Tercatat 16 persen dari UMKM dengan akses digital melakukan modifikasi produknya, 18 persen melakukan optimisasi penjualan online, dan hanya 11 persen yang melakukan restrukturisasi kredit. Sementara UMKM tanpa akses digital sebagian besar atau 26 persen mengandalkan restrukturisasi utang sebagai strategi bertahan yang utama.

"UMKM dengan akses digital dalam memasarkan dan menjual produknya juga memiliki durasi bertahan yang lebih baik dibandingkan usaha tanpa akses digital. Hasil survei memperlihatkan bahwa sebanyak 61 persen UMKM dengan akses digital dapat bertahan selama tiga bulan atau lebih pada kondisi pandemi COVID-19. Sementara hanya 56 persen UMKM tanpa akses digital dapat bertahan dengan durasi yang sama," ujar Dendi.

Selain akses digital, dukungan pemerintah melalui program PEN juga membantu UMKM untuk bertahan. Sebanyak 79 persen dari UMKM yang disurvei mengetahui adanya program PEN. Selanjutnya, sebesar 83 persen dari UMKM yang telah menerima atau dalam proses pendaftaran program PEN menyebutkan bahwa program tersebut membantu kondisi usaha mereka.