Roti Gembul, Usaha Masjid Untuk Umat

Oleh : Redaksi | Minggu, 26 Juli 2020 - 20:31 WIB

Roti Gembul,  Usaha Masjid Untuk Umat
Roti Gembul, amal usaha Masjid Kapal Munzalan, Pontianak (foto ant/H&B)saha Masjid Kapal

Hukum & Bisnis (Pontianak) - Bisnis ini barangkali patut dicontoh oleh para takmir masjid di mana saja sebagai penggerak ekonomi umat. Masjid Kapal Munzalan di Pontianak ini membuka unit amal usaha (UAU) baru.

Usaha bisnis yang dikembangkan adalah  memproduksi roti siap saji. Dijamin  halal. Nama dagangnya Roti Gembul. Sebuah bisnis yang dijalankan tidak hanya semata - mata untuk mengejar keuntungan, namun ada sisi lainnya seperti berharap keberkahan dan bisa menjadi ladang amal untuk hari akhir.

Itu kata manajer Roti Gembul Hary Dirgantara. Roti Gembul merupakan satu di antara cabang usaha dari Unit Amal Usaha Masjid Kapal Munzalan. Karena itu, dari sisi permodalan dan keuntungan serta kepemilikan semua dari masjid. Masih ada lagi usaha yang dijalankan masjid.

Menurut Hary, prinsip keberkahan melalui produk halal dan lainnya sangat diutamakan.Itu sebabnya, tidak hanya wajib berdoa saat hendak memulai pekerjaan. Tapi, juga membaca Al-Qur'an. "Bagian pelayanan satu lembar per hari, sedang bagian administrasi satu juz sehati," Hary.

Bahkan, semua karyawan juga diwajibkan melaksanakan shalat sunat dhuha. "Kemudian bagi laki - laki shalat wajib di masjid dan yang wanita di lokasi bekerja," ujarnya lagi.

Unit usaha Roti Gembul mulai dirintis sejak April 2018, menyasar pangsa pasar di Pontianak dan Kubu Raya. Di kedua kota itu masih sedikit orang menjual roti segar siap saji. Kebanyakan, roti - roti yang dijual dalam bentuk kemasan saja.

"Itulah peluang usaha," kata Hary seoerti dikutip Antara. Dia mengaku sebelum bergabung di UAU Masjid Kapal Munzalan, pernah menjadi manajer usaha kuliner.

Roti Gembul variannya menyesuaikan selera pembeli. Ada coklat (dark coklat, dan coco maltin). Lalu, srikaya, tiramisu, greentea, keju dan original serta lainya. Harganya  sangat terjangkau, mulai Rp3.000 hingga Rp23.000 per buah.

Untuk memasarkan, Riti Gembul juga bekerjasama dengan operator ojek online baik Go-Jek dan Grab. Namun, ternyata animo pembeli lebih banyak datang dan nongkrong di gerai.

Hary bersyukur, sambutan masyarakat terhadap Roti Gembul sangat baik. Hal itu dibuktikan Roti Gembul semakin diminati dan usaha yang dijalankan terus tumbuh. Dalam kurun waktu dua tahun, Roti Gembul sudah punya lima cabang, dengan cabang utama di daerah Sungai Raya Dalam, Kota Pontianak. Tiga lokasi lainnya ada di Jalan Uray Bawadi, Jalan Tabrani Ahmad dan daerah Kota Baru. Selebihnya di Desa Kapur, Kabupaten Kubu Raya.

Gerai Roti Gembul mulai melayani oelanggan sejak pukul 06.00 dan tutup pukul 20.00 WIB. Semua usaha yang kita jalankan dengan strategi yang ada, semua kita serahkan kepada Allah untuk hasilnya," kata dia

Seluruh gerai Roti Gembul dikawal oleh 25 orang karyawan. Gaji yang kayak dan bonus karyawan menjadi perhatian manajemen, agar usaha tetap berjalan maksimal dan berkah.

Ditanya omzet penjualannya, Hary menyebutkan sudah ratusan juta dalam sebulan. Keuntungan 100% untuk masjid dan dipakai untuk menggerakkan amal usaha lainnya. "Saat wabah covid-19 kita tetap bertahan dan tidak ada PHK karyawan. Karyawan juga tetap dapat THR," katanya.

Sertifikat Halal
Roti Gembul telah mendapat sertifikat halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Kalbar. Direktur LPPOM-MUI Kalbar M Agus Wibowo menyebutkan hingga Juni 2020 terdapat 238 pelaku usaha di Kalbar yang mengantongi sertifikat halal.

Total pelaku usaha yang ada tersebut termasuk baru – baru ini MUI menyerahkan ada 36 sertifikat halal dari Kota Pontianak , Kubu Raya, Sanggau, dan Putusibau.

Adanya sertifikat halal dapat mendorong penjualan produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha terkait. Selain itu, konsumen akan merasa lebih aman mengonsumsi produk yang telah terjamin kehalalan nya.

“Adanya sertifikasi halal ini dapat meningkatkan serapan pasar. Di samping itu juga dapat meningkatkan eksistensi pangan halal, khususnya di Kalbar,” kata dia.

Agus menilai, berdasarkan pengalamannya, tidak sedikit usaha yang justru gulung tikar lantaran terkena isu negatif yang menyebut produk yang dihasilkan terkontaminasi dengan barang haram.

"Oleh karena itu perlu ada legalitas yang disematkan pada usaha tersebut guna meyakinkan kepada konsumen bahwa produk yang dihasilkan sesuai dengan standar. Salah satunya adalah dibuktikan dengan sertifikasi halal tersebut," katanya. (bs)