Gawat, Pemerintah Dinilai Kurang Hargai Riset Lokal

Oleh : Redaksi | Minggu, 26 Juli 2020 - 07:57 WIB

Hukum & Bisnis (JAKARTA) - Gawat, pemerintah dinilai tak menghargai kegiatan riset yang dilakukan segenap anak bangsa di dalam negeri. Mau bukti? 

"Hal itu terbukti dari alokasi anggaran penguatan riset dan perkembangan di tanah air yang setiap tahunnya masih di bawah 0,8% dari total pendapatan domestik bruto negara," ungkap anggota Komisi XI DPR Anis Byarawati.
Menurut Anis, anggaran riset di Indonesia tahun ini hanya Rp 1,37 triliun. Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu mencapai Rp 2,01 triliun. Bahkan juga ditengok selama beberapa tahun belakangan anggaran riset tahun ini termasuk yang paling kecil semenjak 4 tahun terakhir.
Kesimpulannya, kata Anis, selama ini pemerintah Indonesia kurang menghargai riset anak-anak bangsa. Hal ini diungkapkan pada diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema “Vaksin Covid: Masalah atau Solusi?” kerjasama Biro Pemberitaan Parlemen DPR RI dan Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Media Center DPR RI, pertengahan pekan lalu (23/7/2020).
Politisi Fraksi PKS ini membandingkan dengan anggaran riset vaksin covid-19 di sejumlah negara. Dia pun mengutip Reuters bahwa Amerika Serikat menggelontarkan dana hingga 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,3 triliun untuk menghasilkan 1 miliar lebih vaksin.
Inggris menginvestasikan dana sebesar 65 juta euro atau Rp 1,1 triliun agar terlibat dalam penelitian global guna menemukan vaksin covid-19. Pemerintah inggris pun menyebut  ada 8 kemungkinan vaksin corona yang tengah dikembangkan.
Bagaimana dengan India? Melalui Serum Institute mengeluarkan dana untuk covid mencapai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun. Dari situ diperkirakan mampu menyediakan vaksin selama satu tahun meskipun tidak akan efektif.
Sedangkan Prancis menganggarkan dana darurat sebesar 50 juta euro atau sekitar Rp 880 miliar. Buat apa? Hanya khusus untuk menemukan vaksin melawan virus corona ini.
Sementara Indonesia, dengan angka positif covid-19 per 6 Juli 2020 mencapai 64.958 kasus, anggaran untuk pusat penemuan vaksin virus SARS cov 2 hanya Rp 35 miliar, bahkan mendapat potongan Rp 1,4 miliar. 
"Anggaran ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana hibah sayembara video inovasi tata normal baru yang mencapai Rp 168 miliar, padahal alokasi anggaran itu belum tentu mempercepat penanganan dampak covid-19," ujarnya.
Diakui Anis, dalam melawan covid-19 kehadiran vaksin ini penting. Sebab beberapa cara pencegahan sudah dilakukan seperti mencuci tangan, memakai masker, adanya PSBB tetapi belum ampuh dan belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Dan, pemulihan kesehatan masyarakat merupakan ujung tombak dari penanganan covid-19. Karena tanpa penanganan kesehatan yang memadai, kita bisa tergelincir ke jurang ketidakpastian
Anis berharap pemerintah melakukan banyak evaluasi, termasuk dalam meletakkan prioritas anggaran di dalam situasi pandemi ini. Ia kembali menegaskan bahwa negara kita perlu memiliki kedaulatan vaksin. Artinya, penemuan vaksin ini dianggap sebuah rahasia. Rahasia bagaimana kita bisa memproduksi sendiri dan anak bangsa mampu melakukannya. Dan itu semua butuh dana riset yang cukup besar. (ban)

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarawati dalam diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema “Vaksin Covid: Masalah atau Solusi?” kerjasama Biro Pemberitaan Parlemen DPR RI dan Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Media Center DPR RI, Kamis (23/7/2020). Foto : Runi/parlementaria/H&B)