Begini Nasib UMKM Penikmat KUR Bank BRI Saat Pandemi Covid-19

Oleh : Redaksi | Selasa, 07 Juli 2020 - 20:51 WIB

Begini Nasib UMKM Penikmat KUR Bank BRI Saat Pandemi Covid-19
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki sedang berkunjung ke UMKM di suatu pasar. (foto ist/H&B)

Hukum & Bisnis (Jakarta) – Kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) termasuk pihak yang paling banyak terkena dampak pandemi covid-19. Banyak yang usahanya nyaris gulung tikar.  "Pendapatan warung kelontong milik saya drop hingga 90%,” kata Zaenab, penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.

Hal utu diungkapkan Zaenab  Untungnya, ada kebijakan dari pemerintah, yaitu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) khusus untuk pelaku KUMKM, yang amat meringankan beban dengan subsidi bunga cicilan", ungkap Zaenab, seorang pelaku usaha kecil penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI.

Hal itu dikatakan Zaenab kepada wartawan, di depan SesmenopUKM Prof Rully Indrawan dan Direktur Bisnis Mikro Bank BRI Supari, di Pusat Informasi Pemulihan Ekonomi Koperasi dan UMKM, di kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Senin (6/7/2020).

Menurut Zaenab, KUR mulai dicicil sejak 31 Juli 2019 sebesar Rp2,485 juta perbulan. Bersyukur, kreditnya memperoleh  penundaan angsuran selama enam bulan ke depan. "Saya juga mendapat subsidi tambahan sebesar Rp2,1 juta. Jadi, angsuran perbulan yang harus saya bayar hanya Rp300 ribuan saja,’’ ucap Zaenab.

Hal serupa dialami Dedi Achyadi, pemilik usaha warung kelontong di pasar tradisional yang juga turun omzet secara drastis selama pandemi covid-19. Dia mengaku nyaris bangkrut akibat omzetnya drop, sementara harus mengangsur pinjamannya dari KUR BRI sebesar Rp 50 juta. "Cicilan saya per bulan sebesar Rp2,9 juta. Dengan adanya program PEN, saya hanya mencicil angsuran pokok sebesar Rp134 ribu,’’ kata Dedi.

Trisnowati, pelaku usaha penjualan alat-alat memasak juga bercerita senada. "Dalam kondisi normal, saya biasa menjual paling sedikit lima unit alat masak. Undangan demo masak pun datang setiap hari. Tapi, selama pandemi, semuanya hilang,’’ ungkap Trisnowati.

Saat ini Trisnowati masih punya tanggungan pinjaman KUR sebesar Rp 500 juta dengan cicilan Rp 13 per bulan. "Alhamdulillah, dengan kebijakan PEN dari pemerintah, saya mendapat penangguhan untuk pembayaran angsuran pokok,’’ kata dia.

Kini, dia hanya diwajibkan mengangsur sebesar Rp1,68 juta perbulan. Dan kini, setelah mendapat tambahan subsidi bunga dari pemerintah, Trisnowati tinggal mengangsur sebesar Rp300 ribuan saja. Trisnowati kini memilih berdagang secara online. (ban)