Mendag: Importir Harus Beli Gula Petani

Oleh : Redaksi | Sabtu, 27 Juni 2020 - 06:48 WIB

Mendag: Importir Harus Beli Gula Petani
petani tebu sedangg panen raya. (foto ist)

Hukum & Bisnis (Jakarta) – Rapat kerja Komisi VI DPR RI dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyepakati ketentuan untun menolong petani gula. Yaitu semua para importir baik BUMN maupun swasta wajib membeli gula dari petani. Tentunya harga beli atau jual gula petani didasarkan pada patokan harga distributor dan harga eceran tertinggi (HET).

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto setuju dengan usulan agar perusahaan dan BUMN yang mendapatkan kuota impor untuk membeli gula petani yang harganya cenderung turun. Agus juga akan menugaskan para importir gula menyerap atau membeli gula petani yang dirugikan akibat kebijakan impor.

"Ya, baik akan kami tugaskan BUMN atau perusahaan pengimpor gula untuk menyerap gula petani," kata Agus dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis (25/6/2020) malam. Sikap itu pun kemudian menjadi kesimpulan rapat kerja Komisi VI DPR dan Menteri Perdagangan yang harus segera ditindaklanjuti.

Sikap pemerintah itu sekaligus menangapi usulan dari anggota Komisi VI Nusron Wahid yang minta agar pemerintah memperhatikan nasib petani gula. Pemerintah harus menyelamatkan m ereka dari ketidakpastian harga pasaran akibat adanya gula impor, terutama pasca panen.

"Beli dengan harga yang sama dengan kesepakatan Bapak (Mendag) Rp 11.200 di harga distributor, sampai ke HET harga Rp 12.500, sesuai dengan Permendag yang Bapak buat Nomor 07 Tahun 2020," ujar Nusron.

Mantan kepala BNP2TKI itu mengatakan, usulannya tersebut mengingat kebijakan Deperindag kala itu hanya memberikan hak importasi gula kepada pabrikan yang menggiling tebu petani minimal 75 persen.

"Kalau hari ini yang dikasih impor, yang atas nama tugas bangsa negara mengamankan harga, mereka pemain rafinasi, yang tidak punya gula petani, terus siapa yang menyerap gula petani sekarang? Lalu ditugaskan kepada siapa? Tidak ada," ujarnya.

Anggota Komisi VI Mufti Anam menambahkan, tidak stabilnya harga gula dan kebutuhan pokok lainnya dikarenakan oleh analisa manajemen stok oleh Kemendag yang tidak berjalan dengan baik. "Bapak Presiden sudah berkali-kali mengatakan saat Lebaran harga bahan pokok harus turun, tapi tidak turun juga. Tapi saat petani panen, impor banjir dan harga jatuh," tuturnya. (bs)