Penyediaan Air Minum dan Sanitasi di Indonesia Masih Tertinggal

Oleh : Ade Maulidin | Kamis, 25 Juni 2020 - 15:27 WIB

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi di Indonesia Masih Tertinggal
Bank Dunia (Ilustrasi)

Hukum dan Bisnis (Jakarta) Bank Dunia merilis kajian bertajuk Public Expenditure Review Spending for Better Result. Dari hasil ini Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara Asia lainnya dalam menyediakan layanan dasar bagi penduduknya, seperti penyediaan air minum dan sanitasi. 

Negara-negara yang dimaksud antara lain China, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Mereka memiliki jumlah penduduk dengan akses air minum yang aman dan sanitasi yang lebih tinggi. 

"Jika dibandingkan dengan Vietnam dan Filipina, perbandingan sangat mencolok, karena negara-negara ini memiliki pendapatan per kapita yang lebih rendah dari Indonesia," kata Spesialis Air Bersih dan Sanitasi Bank Dunia, Irma Setiono, Kamis (25/6/2020). 

Selain itu angka rata-rata nasional tidak memperlihatkan besaran kesenjangan akses air minum di antara kelompok tingkat penghasilan. Misalnya, penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) sangat berbeda-beda di seluruh segmen penghasilan. 

Separuh lebih rumah tangga kaya di Indonesia bergantung kepada AMDK. Langkah serupa terjadi pada 8% rumah tangga termiskin di daerah pedesaan 

"Rumah tangga yang lebih miskin masih bergantung pada sumber air tradisional, baik perkotaan maupun pedesaan," ujarnya. 

Semenra itu kesenjangan akses sanitasi terlihat di antara kelompok penghasilan yang berbeda san secara geografis. Sebanyak 49% masyarakat Indonesia dengan pengeluaran terendah memiliki akses ke fasilitas sanitasi layak, dibandingkan dengan 87% pengeluaran teratas. 

Indonesia mencapai kemajuan besar di sektor penyediaan air minum dan sanitasi selama dua dekade terakhir. Hal ini terlihat dari sebesar 73% rumah tangga memiliki akses ke air minum layak dan 69% ke sanitasi layak pada 2018. 

Angka ini meningkat dibandingkan 1994 masing-masing hanya 38% dan 28%. Sebagian pencapaian didorong oleh kemajuan di daerah pedesaan, saat akses air minum meningkat 2-3 kali lebih cepat dibandingkan perkotaan. (mam)