Kembali, Comes To Terms Jilid 2: Menyoal Kota Piagam, Setelah Menang, Lalu apa?

Oleh : Soemantri Hassan | Selasa, 23 Juni 2020 - 18:57 WIB

Kembali, Comes To Terms Jilid 2: Menyoal Kota Piagam, Setelah Menang, Lalu apa?
Sumantri Hassan/Dokumen penulis

Tulisan ini dibuat berseri karena ide atau gagasan ini belum sampai ke bapak bapak yang terhornat itu.  Kali ini dalam rangka putusan Mahkamah Agung yang baru saja memenangkan Pemprov DKI Jakarta terhadap gugatan pengembang reklamasi pada Pulau H. Serta dalam semangat hari ulang tahun kota Jakarta 22 Juni 2020. Pekerjaan Rumah pembangunan kota piagam Charter Cities.

Tulisan pertama dan dengan judul yang sama di atas khusus membicarakan Kota Piagam (Charter Cities), ide awalnya dari professor Paul Romer peraih nobel ekonomi 2018. Gubernur Anies dan Presiden Jokowi pun bergeming akan topik yang terbilang seksi ini.

Kali kedua ini, masih ajakan berdamai (comes to terms) dalam topik yang sama rasanya tidak mendapat respon di Indonesia.

Ngeri juga membayangkan aksi politik rezim langsung berupa kebijakan melakukan ini dan itu terkait pemindahan ibu kota Jakarta tanpa eksposure ke publik secara intens. 

Yang dilempar ke publik hanya konsepsi tematik disain. Belum konsepsi secara utuh bagaimana sebuah kota di bangun dan di tata. Blessing in disguise to Covid 19, wacana pemindahan ibu kota Jakarta terhenti.

Dalam hari jadi kota Jakarta 22 Juni 2020 ini, saya mengajak cerdik pandai yang bergaji uang rakyat untuk serius memikirkan nasib hidup manusia di masa depan yang akan terpusat di kota kota. 

Sebuah kota yang tidak melulu memamerkan jalan yang luas dan lampu kelap kelip. Tapi ke depan kota kita tempat memutus mata rantai kemisikinan struktural dan meningkatkan taraf hidup warga kotanya. Kita masih abai. Kita masih sibuk membully satu sama lain. 

Kita bagai dirasuki cinta buta pada sosok. Bukan pada pemikiran dan kebijakannya. Para elit sibuk memelihara buzzer. Publik pun terbelah. 

Kita renungkan ungkapan  bijak sejarahwan Mark Twain, loyalitas pada negara itu harus. Pun Pada pemerintahan. Namun loyalitas pada pemerintahan jika layak pemerintahannya. 

Dalam bahasa gamblang kita semua adalah abdi bagi negara dan masyarakat. Namun akal sehat menolak kita turun derajat menjadi budak keduanya. Doa yang baik dari aktor cilik yang tidak cilik lagi sekarang, Maafkan Baim Ya Allah.

 

*penulis pengamat kebijakan publik