Didik Efendi (1) Dari Jualan Es Keliling Kini Punya Istana Kado

Oleh : Taufiq Zuliawan | Kamis, 11 Juni 2020 - 23:53 WIB

Didik Efendi (1) Dari Jualan Es Keliling Kini Punya Istana Kado
Didik Efendi (taufiq)

Hukum & Bisnis (Sukoharjo) - Perjalanan manusia memang tidak bisa disangka. dunia berputar dan memberikan berbagai hikmah, ujian, dan keteguhan hati. 

Begitu juga untuk menjadi pengusaha sukses  Itu adalah impian banyak orang. Namun jika melihat perjalanan kisah para pengusaha, ternyata tidak semudah membalikkan tangan.

Perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan panjang nan melelahkan, diiringi tetesan keringat, ketekunan, semangat pantang menyerah, serta doa yang selalu dipanjatkan.

Di sekitar Soloraya seperti Solo, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Boyolali, dan Sragen banyak pengusaha sukses, meskipun begitu ukuran sukses pengusaha terkait materi dan rasa bahagianya juga sangat relatif.

Namun, kisah cerita inspiratif itu pas disematkan buat Didik Efendi. Dia adalah sosok pemilik 'Istana Kado Ulya' yang menjual beraneka aksesoris dan berbagai pernik- pernik jam, peralatan sekolah, baju, tas, sepatu, hingga mainan anak- anak. Istana Kado Ulya beralamatkan di Desa Ngreco, Kecamatan Weru, Sukoharjo. Tepatnya 500 meter dari Kantor Kecamatan Weru, Sukoharjo.

Sudah pasti,  Didik Efendi, alumnus Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip) ini tidak membangun kerajaan bisnisnya dengan cara instan. Tidak. Semua dia mulai dari nol. Hingga kini punya banyak toko 'Istana Kado Ulya' di beberapa tempat. Dan kini Didik sedang membangun Pondok Pesantren Hafid Quran dan masjid. Juga mendirikan sejumlah rumah yatim piatu Dia juga menjadi penolong kaum difabel.di daerahnya. 

Menurut Didik,  doa restu orang tuanya serta doa- doa yang dipanjatkan bersama para anak yatim,  akhirnya membuahkan hasil berupa kelimpahan berkah dan rejeki. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, lagi-lagi, limpahan rezeki kembali dia salurkan dalam bentuk zakat dan sedekah. Banyak orang melihat Didik yang juga pengurus Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Weru ini tidak kehilangan keseimbangannya saat menjadi orang yang sukses. Sifatnya yang rendah hati dan dermawan acap terpancar.

"Benar mas, perjalanan bisnis di Toko Istana Kado Ulya tidak instan, butuh perjuangan yang panjang. Banyak cerita perjalanannya," kata owner Toko Istana Kado Ulya ini saat menemui Hukum & Bisnis awal Juni 2020 di rumahnya.

Didik mengungkapkan,  cerita yang menarik di kala masih kuliah. Dia berani memutuskan menikah sambil berkuliah. Jangan kaget,  niat menikah muda saat itu sebuah pilihannya dan iapun siap mengambil risiko yang dihadapinya. 

"Berhubung saya memutuskan untuk menikah di saat kuliah, ya semua beban keluarga dan kuliah menjadi tanggung jawab saya sendiri mas," ujar anak seorang guru. Saat itulah dia mulai  belajar mandiri bersama istri. 

Meski orang tuanya guru negeri,  namun kesejahteraan PNS, maaf ya saat itu masih dirasa minim, belum mampu mencukupi semua kebutuhan kuliahnya.

Kondisi saat itu memamg berat,  satu sisi dirinya harus mampu mencukupi kebutuhan kuliahnya hingga rampung. Di sisi lainnya Didik harus bertanggung jawab menafkahi istrinya.

Meski kondisinya yang sulit kala itu, dia mengaku tidak patah arang. Kondisi berat itu justru menjadi pemicu semangatnya.

Solusinya: kuliah nyambi jualan. Atau dibalik, jualan sambil kuliah. Berjualan kue, roti, dan secara berkeliling dari kampung ke kampung, di sekitar Tembalang, Semarang bagian selatan. Yang dia bersyukur, sang istri yang berhijab itu  ikut mendukung perjuangan dirinya.

"Saya jualan apa saja yang penting halal mas, meski kondisi berat saat itu. Saya nikmati syukuri dan jalani mengalir sambil selalu minta doa restu orang tua dan selalu berdoa kepada Allah SWT," terangnya.

Singkat cerita, perjalanan manis getir saat merangkak dari bawah itu dilaluinya hingga  ujung tahun 1998, yaitu saat ini dinyatakan lulus menjadi sarjana teknik mesin. Ketika itu sang ibundanya minta Didik pulang kampung. 

Duh bingung. Walau pun sudah sarjana kan belum punya pekerjaan. Bingung mau cari kerja apa. Alhamdulillah, tanpa waktu lama, Didik diterima mengajar di salah satu perguruan tinggi di Solo.

Tapi, mengharap dari gaji mengajar tentu tidaklah cukup untuk menghidupi keluarga. Diwujudkanlah ide, mengajar sambil usaha.  Dibukalah  toko yang mungil di rumah kecilnya yang berukuran  3 X 4 meter persegi milik kakaknya. Bersama istrinya , toko kecil  itu ia namakan  'Istana Kado Ulya'. ( bs)